Tiap manusia memiliki impian. Hanya saja cara untuk menggapai impian itu yang berbeda. Mimipi terbesarku adalah ketika aku dapat mengetahui semua bakat yang ku punya dan mengembangkannya , berawal dari kebiasaan kecil hingga menemukan bakat terpendam, semua ingin ku gali dan ku dalami. Namun mimpi itu seakan debu yang dengan mudahnya tertiup angin karena tujuan orang tua yang tak sejalan. Ketika orang tuaku membelokanku ke jalan yang sama sekali tak ku segani, disitulah bayangan akan hidupku beberapa tahun kedepan hancur diterpa derasnya paksaan. Orang tua tak menyetujui semua impian dan harapanku selama ini meskipun aku telah meraih prestasi, mereka hanya ingin agar aku tetap duduk manis menuruti jalan mereka tanpa disadari, aku hancur. Hasrat ingin menyerah sudah pasti ada, namun tiada lagi yang bisa diperbuat selain meyakinkan mereka. Keinginan mereka yang besar untuk menjadikanku seorang dokter bukanlah perkara yang tidak baik, namun ada beberapa hal yang sulit untuk dijabarkan agar mereka mengerti betapa terkurungnya aku dengan semua titah mereka. Tanpa putus asa aku terus menggali semua bakatku hingga aku bisa membuktikan kepada mereka bahwa jalan yang kupilih adalah yang terbaik.
Sesungguhnya memasuki dunia
kesehatan bukanlah hal yang sulit bagiku. Cukup bermodal nilai raport yang
tinggi sudah menjamin fakultas yang paling diminati penduduk Indonesia itu, apa
daya nilai tanpa kesungguhan dan keahlian yang ku punya. Aku tidak suka sesuatu
yang berhubungan dengan darah, alasan ini sudah kuajukan kepada mereka dan
tetap saja mereka tidak menerima alasan apapun. Mereka selalu merasa bahwa
kedokteran dapat merubah hidupku kedepannya. Padahal aku ingin memasuki dunia
teknik dan mereka tak mengizinkanya dengan alasan itu pekerjaan pria. Semua
sudah kuungkapkan kepada mereka tentang alasanku tak bisa menuruti keinginan
mereka namun tak ada satupun yang diterima. Hidup dengan prinsip yang tak
sejalan dengan orang tua memanglah susah, semua bakat yang ku punya harus ku
relakan sia-sia.
Comments
Post a Comment