Pengalaman pendidikan yang kujalani bukan sekedar perjalanan suci semata. Egoisme yang kumiliki berkolaborasi dengan kesombongan yang melekat dalam hati, sayangnya mereka menjerumuskanku ke dalam pikiran penuh akan halusinasi. Mereka mengubur dalam mimpi-mimpi serta ambisi yang tergantung tinggi di angkasa luar. Namun, aku bisa bangkit kembali dengan semangat yang lebih beraroma dari sebelumnya.
Semua berawal dari kelas 3 SMP, ketika Mama sangat berambisi dengan sekolah MAN Insan Cendekia Serpong, high quality school, dengan sangat percaya diri, kubusungkan dadaku melangkah menuju harapan itu. Tanpa kusadari ternyata aku salah mengambil langkah sehingga aku terjatuh, aku terlalu angkuh dengan melewatkan persiapan yang mantap untuk meraihnya, dalam hati kecilku aku sudah merasa mampu dengan kemampuan yang kupunya. Namun, Allah yang ikut andil dalam hal pilih memilih, sampailah aku kedalam jurang yang telah ku gali sendiri. Warna merah mendominasi layar telepon genggam milikku, tandanya aku gagal.
Hal serupa juga ku ulangi dengan mendaftarkan diriku ke sekolah bergengsi MAN 2 Kota Malang yang terletak di kawasan edukasi Kota Malang, berbeda dengan sebelumnya, waktu itu rasa ambisius mengalahkan imanku dengan mengagungkan keyakinanku akan sekolah ini. Rasanya positif sudah aku bakal masuk di sekolah ini dengan pengalaman tes sebelumnya yang gagal, mungkin dapat diperbaiki di tes kali ini. Semua orang sudah percaya bahwa aku akan diterima di sekolah ini, sampai sampai aku rela meninggalkan wisudah purnaku demi mengikuti tes masuk sekolah ini karena menurut jawaban istikharah yang kulakukan sebaiknya aku memilih MAN 2 Kota Malang saja daripada ikut wisudah purna, hal ini juga memantapkan langkahku untuk menuju sekolah impian sejuta umat itu bahkan aku melewatkan daftar ulang SMA yang menjadi cadanganku, SMA Progresif Bumi Sholawat Sidoarjo, yang merupakan lanjutan dari tempatku menggali pelajaran 3 tahun terakhir ini.
Pengumuman tes masuk MAN 2 Kota Malang adalah tanggal 27 Mei 2017, namun ada yang aneh. Dari sekian banyak calon siswa yang masuk tidak kutemui namaku. Takdir berkata lain, sepintar apapun diriku apabila ada rasa sombong sedikit saja akan tetap gagal. Hingga Mama menemukan sekolah yang ku duduki saat ini, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT Jombang CIS ID 113, dimana besok adalah pendaftaran terakhirnya dan lusa adalah tes masuknya. Tanggal 28 Mei aku langsung menuju Jombang dan memilih asrama yang menurutku nyaman, di hari itu juga aku mendaftarkan diri sebagai calon siswa dan mengikuti tes pada keesokan harinya.
Kali ini tes kujalani dengan pasrah. Bagaimana tidak? 2 SMA sudah kujalani lika-likunya namun nihil hanya karena ego dan kesombonganku saja. Aku hanya bisa mengikhlaskan semua kepada YME bagaimanapun juga ialah tempatku bergantung. Beberapa hari kemudian pengumuman tes, tak kusangka namaku berada di urutan 20 besar. Aku sadar bahwa sekolah ini bukan sekolah idamanku, namun aku yakin bahwa di sekolah ini aku bisa menemukan jati diriku dan meraih apa yang seharusnya menjadi takdirku
Comments
Post a Comment